Secangkir Kopi dan Sehalaman Blog
Saturday,
February 11, 2012
7:15 AM
Tepat pukul 07.15
am, aku mulai membiarkan jari-jariku menari diatas papan keyboard Pico-ku
tercinta. Udara yang sejuk dan dingin masuk melalui jendela yang kubuka lebar
beberapa meter dari tempatku duduk. Kubiarkan cerahnya mentari menerangi setiap
sudut ruang tamu tempatku duduk didepan Pico.
Hmm… harumnya aroma
Nescafe Menu Grand Latté yang berada tepat disisi kanan Pico, menyeruak masuk
dan mengelitik bulu hidungku.
Aku tersenyum..
Dalam hati aku bersyukur buat apa yang telah kurasakan dalam hidupku hingga
saat ini..
Bapa telah berikan
semuanya lebih dari yang kubutuhkan, walaupun kadangkala keinginan hatiku
menuntut lebih dari apa yang kuperlukan.
Seperti Nescafe yang
ada disisiku ini,, Nescafe ini adalah pembelian istriku. Si Nescafe ini
memiliki cerita syukurku sendiri, mewakili satu kisah tentang kami.
:-)
Berawal di kemarin
pagi yang cerah, aku berangkat untuk menjemput istriku dulu sebelum aku
berangkat ke tempat kerja. Aku mengantar istriku ke kampus karena ia perlu
menghadiri workshop skripsi yang diadakan seminggu ini.
Aku sengaja
berangkat lebih awal, karena aku ingin menghabiskan beberapa waktu untuk
mengobrol dengan istriku sebelum ia masuk kelas. Yaah, memang kami bertemu
setiap hari, namun kadang aktivitas yang terlampau padat membuat kami tidak
punya cukup moment untuk berbincang-bincang dalam suasana yang intim. (sekedar
info, aku dan istriku belum tinggal serumah, dia tinggal bersama nenek, tante,
om, dan adik-adiknya; sementara aku tinggal sendiri di rumah kakekku yang uda
meninggal.--red.)
Kami sampai di
kampus sktr 15 menit sebelum jadwal
kelas workshop istriku dimulai. Kemudian langsung berjalan menuju tempat
favorit kami untuk mengobrol--sebenarnya itu tempat untuk menunggu dosen, ato
menunggu jadwal pulang istriku, ato tempat latian kelas dramanya istriku, ato
tempat ngumpulnya anak2 yang keranjingan wifi ditengah-tengah jeda waktu
kuliah.--dan langsung duduk mojok berdua. ;-)
Awalnya obrolan kami
berjalan dengan santai. Aku duduk sambil ngobrol dan melihat-lihat sekeliling..
Lalu memandangi wajah istriku.. :-) semua terasa indah sampai ada
kesalahpahaman di tengah-tengah obrolan kami.
Istriku ternyata
berpikir bahwa aku mengajaknya mengobrol karena aku butuh waktu untuk
membicarakan beberapa hal yang masih megganjal di hari sebelumnya, yang belum
sempat kami bahas sampai tuntas. Sedangkan aku sebenarnya uda membiarkan apa
yang telah kami lewatkan itu. Namun kesalahpahaman itu akhirnya memicuku untuk
membahas kembali apa yang jadi ganjalan di hari sebelumnya.
Begitulah akhirnya
si emosi membakar logika kami berdua, dan pada puncak emosinya, istriku sampai
mengumpat; dan sebuah kata "g*l*" meluncur dari mulutnya.
Setelah itu kami
terdiam. Lalu dilanjutkan lagi dengan beberapa patah kalimat yang saling
berargumen.
Kemudian istriku pamit
karena kelasnya akan dimulai.
Kami berpisah
ditengah kegeraman hati masing-masing.
….
Semenit kemudian aku
telah berada di atas Shogun merah kami, meluncur pergi ke tempat kerja.
Di tengah
perjalananku, aku memikirkan pertengkaran kami tadi.
Aku seharusnya lebih
bersabar tadi. Lebih lagi menahan emosiku. Aku juga tidak seharusnya mengungkit
kembali apa yang telah aku putuskan untuk kubiarkan berlalu.
Aku menyesal.
Dan kuputuskan untuk
meminta maav pada istriku saat aku menjemputnya nanti.
.. ..
Aku baru bisa
menjemput istriku agak sore sekitar jam 5an. Biasanya aku menjemputnya di
kampus jam 1 siang setelah aku pulang kerja, dan kami makan siang bersama. Tapi
hari itu istriku mau hangout dulu dengan temen2 sekampusnya, Anis & Ussi.
Jam 5 sore aku
meluncur kerumah Anis untuk menjemput istriku. Kami bertatap muka, kemudian
setelah pamit pada Anis Ussi, kami berangkat.
Ditengah perjalanan
kami saling meminta maav. Aku menyesal telah membuatnya sedih. Dan aku
merencanakan untuk membeli Cappucino dan roti sisir untuk kami nikmati bersama
sebagai permintaan maavku sore itu.
:-)
Istriku juga
menyesal telah marah-marah sampe si "g*l*" meluncur keluar dari
mulutnya. Istriku menyesal telah membuat aku bersedih karena dialog kami
berakhir dengan pertengkaran, terutama karena adanya si "g*l*" itu.
Dan sebagai permintaan maavnya, istriku ternyata telah menyiapkan sesuatu untuk
kami.. ^_^ ( sebenernya aku uda curiga kalo istriku belanja sesuatu buatku,
karena pas akku jemput istriku dirumah Anis, dia membawa sebuah kresek orange
yang isinya dirahasiakan daripadaku. :-P )
Dan benar saja,
sesampainya dirumahku, istriku memelukku dan meminta maav sekali lagi sambil
nyogok dengan sebungkus besar Nescafe Grand Latté (isi 20 sachet--red.) dan
sebungkus besar Chitato rasa Sapi Panggang. Hehe..
:-)
Tidak ada lagi yang
bisa kami berdua rasakan selain rasa cinta kami berdua saat itu.
Setiap rasa kecewa,
marah, sebel, dan emosi yang kami rasakan tadi pagi hanya bertahan beberapa
menit saja setelah kami berpisah. Rasa cinta yang besar telah menyadarkan kami
bahwa apa yang terjadi tadi pagi hanya emosi sesaat yang samasekali tidak bisa dibandingkan
dengan cinta kami.
:-)
Permintaan maav kami
adalah sebuah pelengkap yang meneguhkan bahwa kami mau merendahkan diri untuk
satu sama lain, asalkan pasangan bisa bahagia. Itulah satu hal yang terindah
dari perjalanan si cinta, yaitu saat dimana kita mau mengorbankan diri kita demi
kebahagian pasangan kita. Dalam kasus ini, kami mau merendahkan diri dengan
meminta maav walaupan kami tahu bahwa kami berdua sama2 salah.
…
Tak terasa jam
dinding telah menunjukkan pukul 08.05 am.
Waktu ngopi pagi
hariku telah selesai.
Sekarang waktunya bersiap untuk menjemput istriku dan
menjalani hari kami bersama.
:)
Satu kisah syukur
lagi dalam hidupku..
Terima kasih JC buat
seorang istri yang luar biasa..
…
With Love,
Chandra Harlis
0 comments